Museum Bank Indonesia

Bank Indonesia (BI) adalah bank sentral Republik Indonesia. Bank ini memiliki nama lain De Javasche Bank yang dipergunakan pada masa Hindia Belanda. Sebagai bank sentral, BI mempunyai satu tujuan tunggal, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah ini mengandung dua aspek, yaitu kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa, serta kestabilan terhadap mata uang negara lain.



Sejarah
Bangunan Museum Bank Indonesia di kawasan Kota merupakan gedung bekas De Javasche Bank (DJB). Dahulunya gedung ini adalah sebuah rumah sakit yang dikenal dengan nama Binnen Hospital. ertama kali digunakan oleh DJB sejak 8 April 1828.

Kemudian pada tahun 1910, atau lebih dari 80 tahun setelah menempati gedung tua bekas rumah sakit ini, DJB mulai membangun kembali gedung ini. Perancangan bangunan dikerjakan oleh Biro Arsitek Ed. Cuypers & Hulswit yang kemudian berubah menjadi Architecten & Ingenieursbureau Fermont-Cuypers.

Pembangunan tahap pertama selesai pada tahun 1912 merupakan gedung bergaya arsitektur neoklasik Eropa yang terletak di sepanjang Binneninieuwpoorstraat, kini Jalan Pintu Besar Utara. Pada tahun 1922, pembangunan tahap kedua dimulai dengan menambah beberapa ruangan baru seperti ruang simpan barang berharga (kluis), ruang arsip, ruang pertemuan besar (ruang hijau), rumah penjaga gedung (concierge) dan garasi.

Pembangunan tahap ketiga dilakukan pada tahun 1924, merupakan perluasan dari tahap sebelumnya dengan membangun sebuah unit di bagian belakang sepanjang Kali Besar menggantikan bangunan tua bekas rumah sakit. Selain itu, dibuat pula bangunan di sepanjang Javabankstraat, kini jalan Bank, yang bertemu dengan bangunan tahap pertama di sisi utara. Bangunan baru ini memiliki kaca patri, dengan ragam hias berupa komoditas perdagangan pada masa Hindia Belanda dan dewa-dewi Yunani yang sangat indah.

Tahun 1933, pembangunan tahap keempat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan ruang hasanah yang lebih luas dan ruang efek-efek. Dalam pembangunan kali ini, Biro Arsitek Fermont-Cuypers mendesain beberapa unit tambahan yaitu beberapa kluis baru yang ditempatkan pada perpanjangan bangunan di sisi Binneninieuwpoorstraat. Renovasi juga dilakukan di bagian muka di sisi jalan yang sama dengan gaya yang lebih sederhana.

Pembangunan tahap kelima dilakuka pada tahun 1935 untuk memodernisasi arsitektur tahap pertama. Selain menganut satu pintu keluar-masuk untuk menggantikan dua pintu gerbang sebelumnya. Tahap ini juga menghilangkan kubah yang semula menghiasi atap gedung. Pembangunan ini selesai dan diresmikan pada tanggal 12 Juni 1937. Pembangunan tahap kelima merupakan tahap terakhir dari rangkaian pembangunan gedung DJB. Selama Bank Indonesia menempati bangunan ini, tidak banyak perubahan yang dilakukan.
Ilustraasi Kasus

Merupakan denah lantai 1 Museum Bank Indonesia yang terdiri dari beberapa ruang diantaranya :
1.  Pintu masuk belakang
2.  Ruang serba guna
3.  Ruang gelar budaya
4.  uang jeda
5.  Ruang penerbitan & pengedaran uang

Ruang Perpustakaan

Merupakan denah lantai 2 Museum Bank Indonesia yang terdiri dari beberapa ruangan diantaranya :
  1. Pintu Masuk Utama
  2. Ruang Penitipan Barang
  3. Ruang Manager
  4. Ruang Lobby Hall & Loket
  5. Ruang Pelayanan Pengunjung
  6. Ruang Peralihan
  7. Ruang Theater
  8. Ruang Informasi BI
  9. Ruang Sejarah Pra BI
  10. Ruang Sejarah BI Periode -1
  11. Ruang Sejarah BI Periode -2
  12. Ruang Sejarah BI Periode -3
  13. Ruang Sejarah BI Periode -4
  14. Ruang Sejarah BI Periode -5
  15. Ruang Sejarah BI Periode _6
  16. Ruang Jeda & Children Comer
  17. Ruang Direktur
  18. Ruang Gubernur
  19. Ruang Meeting
  20. Ruang Gelar Budaya
  21. Ruang Inspirasi
  22. Ruang Jeda & Children comer
  23. Ruang Numismatik
  24. Ruang BI Future
  25. Ruang Kerja
  26. Ruang Emas
  27. Ruang Souvenir

Fasilitas
Museum BI beroperasi secara penuh pada tahun 2008. Museum Bank Indonesia akan menyediakan fasilitas-fasilitas berikut:


Ruang Penitipan Barang, disediakan bagi pengunjung yang hendak menitipkan barang-barangnya selama berkunjung ke Museum Bank Indonesia.

Pusat Informasi Bank Indonesia, dalam ruangan ini pengunjung akan dibanjiri dengan berbagai informasi dari masa lalu hingga masa kini dengan time series yang cukup panjang mengenai sejarah dan peran Bank Indonesia. Informasi tersebut dapat diakses menggunakan perangkat multi media, sehingga bermanfaat untuk keperluan penelitian, pembuatan analisis, dan sebagainya. Di samping informasi yang berasal dari Bank Indonesia, juga dapat diakses informasi dari beberapa sumber lain, dalam dan luar negeri. Disediakan pula fasilitas untuk mencetak (printing) data/informasi dari komputer. Kelengkapan informasi dalam ruangan ini masih ditambah dengan hadirnya BI Virtual Museum, yang akan memberikan informasi tentang Museum Bank Indonesia melalui jaringan internet. 


Ruang Auditorium, terletak di lantai 2 Museum Bank Indonesia berdekatan dengan pusat informasi BI (BI Information Center). Ruangan ini digunakan sebagai tempat penyelenggaraan ceramah/seminar/diskusi, baik yang disponsori oleh Bank Indonesia maupun pihak luar.

Kios Buku dan Cenderamata, pengunjung dapat memperoleh berbagai hasil publikasi dan cenderamata yang berkaitan dengan museum, khususnya Museum Bank Indonesia. Snacks juga disediakan di sini.

Banking Expo, fungsi pembinaan bank yang diemban oleh Bank Indonesia, dapat direpresentasikan dalam ruang banking expo. Dalam ruangan ini, bank-bank dapat mempromosikan produk-produk terbarunya, sehingga pengunjung dapat membandingkan keunggulan dari setiap bank. Jadi, para pengunjung tidak hanya disuguhi sejarah perbankan di dalam ruang pamer, tetapi sekaligus dapat bertransaksi secara langsung.

Ruang Serbaguna, salah satu keunggulan Museum Bank Indonesia adalah terdapatnya beberapa ruangan yang dapat digunakan untuk kepentingan pengunjung. Salah satunya adalah ruang serbaguna yang terletak di lantai 1. Ruangan ini dapat digunakan oleh pengunjung untuk berbagai keperluan, seperti resepsi pernikahan, rapat besar, dan lain-lain. Perpaduan pesta modern di tengah-tengah nuansa sejarah akan menjadikan pesta yang diselenggarakan semakin berkesan.

Cafe Museum, merupakan salah satu unsur modernisasi yang dihadirkan oleh Museum Bank Indonesia. Di tempat ini, pengunjung dapat beristirahat sekaligus menikmati makanan dan minuman yang lezat, lengkap dengan bacaan berupa harian dan majalah yang khusus mengupas masalah ekonomi, bisnis, dan perbankan. Ditambah lagi dengan adanya beberapa televisi yang menayangkan program-program yang berkaitan dengan ekonomi, bisnis, dan perbankan, sehingga sangat cocok untuk perjamuan ringan dengan relasi bisnis di siang hari.

Fine Dining Restaurant, berbeda dengan cafe museum yang menawarkan nuansa santai, fine dining restaurant, menawarkan suasana yang lebih eksklusif. Suasana ini akan semakin terasa pada malam hari di area inner court dan outeryard.

Perpustakaan, merupakan salah satu fasilitas unggulan Museum Bank Indonesia. Terdapat dua macam perpustakaan di Museum Bank Indonesia, yaitu: perpustakaan untuk para peneliti museum dan perpustakaan untuk umum. Kedua perpustakaan ini akan menyajikan koleksi lengkap, mulai dari buku-buku referensi, majalah, hingga dokumen-dokumen yang tersimpan dalam perangkat multi media, yang kesemuanya dapat dimanfaatkan oleh pengunjung untuk menambah wawasan, keperluan penelitian, maupun analisis.

Pertokoan, walaupun sarat dengan unsur edukasi, Museum Bank Indonesia juga menyajikan nuansa hiburan, yang diantaranya diwakili dengan jejeran pertokoan yang terletak di lantai 1. Ruang pertokoan ini menjual berbagai macam barang eksklusif, misalnya boutique.

Masjid, Museum Bank Indonesia menyediakan sarana ibadah berupa masjid yang terletak di dalam lingkungan museum.








Daftar Pustaka:
http://feidasucianad.blogspot.co.id/2017/05/konservasi-arsitektur-museum-bank.html
http://streetsproduction.tripod.com/id16.html

Kritik Arsitektur Museum Fauna Indonesia dan Taman Reptilia TMII Jakarta


Museum Fauna Indonesia dan Taman Reptilia TMII Jakarta, atau sering disebut sebagai Museum Komodo karena bentuk bangunannya yang meniru bentuk badan dan kepala binatang raksasa Komodo, berada di dalam kompleks Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur.



Lokasinya berada tepat di sebelah Barat Museum Perangko Indonesia, di sebelah Timur Museum Transportasi, dan berhadapan dengan Museum Timor Timur. Tidak jauh di sebelah Selatan Museum Fauna Indonesia dan Taman Reptilia terdapat Hostel Desa Wisata.



Museum Fauna Indonesia dibangun mulai 1 Oktober 1975 sampai 1 Juli 1976, namun baru diresmikan pada 20 April 1978 oleh Presiden Soeharto. Luas bangunan dua lantai Museum Fauna Indonesia dan Taman Reptilia ini mencapai 1.500 m2 dengan luas lahan 10.120 m², dengan koleksi meliputi satwa langka awetan maupun reptilia yang masih hidup yang berasal dari Indonesia barat sampai timur, dan dari pesisir pantai sampai pegunungan.



Museum ini memiliki gaya arsitektur metafora yang terinspirasi dari salah satu hewan reptil yaitu komodo. Pemilihan bentuk komodo sebagai simbol binatang reptil khas Indonesia memiliki kesan yang kuat dan unik.



Penerapan dari metafora tersebut dapat terlihat pada bentuk bangunannya yang menyerupai hewan reptil komodo dengan fasad eksterior yang di bentuk menyerupai kulit dari komodo baik dari segi tekstur maupun warna. Pada salah satu sisi bentukan bangunan yang menyerupai bagian kepala komodo terdapat detail berupa mata dan mulut yang dilengkapi gigi dengan material kaca yang berfungsi sebagai jendela pada observation deck.



Alasan :
Bangunan museum ini berbentuk binatang komodo, bentuk tersebut mempunyai keunikan tersendiri. Sejak kecil, saya selalu penasaran dengan bangunan ini. Sehingga saya tertarik untuk meneliti bangunan ini lebih dalam.

Jl. Taman Mini Indonesia Indah, RW.2, Ceger, Cipayung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13820

Copyright @ 2014 Karyaku. Designed by Farhan Permana