Museum Bank Indonesia

Bank Indonesia (BI) adalah bank sentral Republik Indonesia. Bank ini memiliki nama lain De Javasche Bank yang dipergunakan pada masa Hindia Belanda. Sebagai bank sentral, BI mempunyai satu tujuan tunggal, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah ini mengandung dua aspek, yaitu kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa, serta kestabilan terhadap mata uang negara lain.



Sejarah
Bangunan Museum Bank Indonesia di kawasan Kota merupakan gedung bekas De Javasche Bank (DJB). Dahulunya gedung ini adalah sebuah rumah sakit yang dikenal dengan nama Binnen Hospital. ertama kali digunakan oleh DJB sejak 8 April 1828.

Kemudian pada tahun 1910, atau lebih dari 80 tahun setelah menempati gedung tua bekas rumah sakit ini, DJB mulai membangun kembali gedung ini. Perancangan bangunan dikerjakan oleh Biro Arsitek Ed. Cuypers & Hulswit yang kemudian berubah menjadi Architecten & Ingenieursbureau Fermont-Cuypers.

Pembangunan tahap pertama selesai pada tahun 1912 merupakan gedung bergaya arsitektur neoklasik Eropa yang terletak di sepanjang Binneninieuwpoorstraat, kini Jalan Pintu Besar Utara. Pada tahun 1922, pembangunan tahap kedua dimulai dengan menambah beberapa ruangan baru seperti ruang simpan barang berharga (kluis), ruang arsip, ruang pertemuan besar (ruang hijau), rumah penjaga gedung (concierge) dan garasi.

Pembangunan tahap ketiga dilakukan pada tahun 1924, merupakan perluasan dari tahap sebelumnya dengan membangun sebuah unit di bagian belakang sepanjang Kali Besar menggantikan bangunan tua bekas rumah sakit. Selain itu, dibuat pula bangunan di sepanjang Javabankstraat, kini jalan Bank, yang bertemu dengan bangunan tahap pertama di sisi utara. Bangunan baru ini memiliki kaca patri, dengan ragam hias berupa komoditas perdagangan pada masa Hindia Belanda dan dewa-dewi Yunani yang sangat indah.

Tahun 1933, pembangunan tahap keempat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan ruang hasanah yang lebih luas dan ruang efek-efek. Dalam pembangunan kali ini, Biro Arsitek Fermont-Cuypers mendesain beberapa unit tambahan yaitu beberapa kluis baru yang ditempatkan pada perpanjangan bangunan di sisi Binneninieuwpoorstraat. Renovasi juga dilakukan di bagian muka di sisi jalan yang sama dengan gaya yang lebih sederhana.

Pembangunan tahap kelima dilakuka pada tahun 1935 untuk memodernisasi arsitektur tahap pertama. Selain menganut satu pintu keluar-masuk untuk menggantikan dua pintu gerbang sebelumnya. Tahap ini juga menghilangkan kubah yang semula menghiasi atap gedung. Pembangunan ini selesai dan diresmikan pada tanggal 12 Juni 1937. Pembangunan tahap kelima merupakan tahap terakhir dari rangkaian pembangunan gedung DJB. Selama Bank Indonesia menempati bangunan ini, tidak banyak perubahan yang dilakukan.
Ilustraasi Kasus

Merupakan denah lantai 1 Museum Bank Indonesia yang terdiri dari beberapa ruang diantaranya :
1.  Pintu masuk belakang
2.  Ruang serba guna
3.  Ruang gelar budaya
4.  uang jeda
5.  Ruang penerbitan & pengedaran uang

Ruang Perpustakaan

Merupakan denah lantai 2 Museum Bank Indonesia yang terdiri dari beberapa ruangan diantaranya :
  1. Pintu Masuk Utama
  2. Ruang Penitipan Barang
  3. Ruang Manager
  4. Ruang Lobby Hall & Loket
  5. Ruang Pelayanan Pengunjung
  6. Ruang Peralihan
  7. Ruang Theater
  8. Ruang Informasi BI
  9. Ruang Sejarah Pra BI
  10. Ruang Sejarah BI Periode -1
  11. Ruang Sejarah BI Periode -2
  12. Ruang Sejarah BI Periode -3
  13. Ruang Sejarah BI Periode -4
  14. Ruang Sejarah BI Periode -5
  15. Ruang Sejarah BI Periode _6
  16. Ruang Jeda & Children Comer
  17. Ruang Direktur
  18. Ruang Gubernur
  19. Ruang Meeting
  20. Ruang Gelar Budaya
  21. Ruang Inspirasi
  22. Ruang Jeda & Children comer
  23. Ruang Numismatik
  24. Ruang BI Future
  25. Ruang Kerja
  26. Ruang Emas
  27. Ruang Souvenir

Fasilitas
Museum BI beroperasi secara penuh pada tahun 2008. Museum Bank Indonesia akan menyediakan fasilitas-fasilitas berikut:


Ruang Penitipan Barang, disediakan bagi pengunjung yang hendak menitipkan barang-barangnya selama berkunjung ke Museum Bank Indonesia.

Pusat Informasi Bank Indonesia, dalam ruangan ini pengunjung akan dibanjiri dengan berbagai informasi dari masa lalu hingga masa kini dengan time series yang cukup panjang mengenai sejarah dan peran Bank Indonesia. Informasi tersebut dapat diakses menggunakan perangkat multi media, sehingga bermanfaat untuk keperluan penelitian, pembuatan analisis, dan sebagainya. Di samping informasi yang berasal dari Bank Indonesia, juga dapat diakses informasi dari beberapa sumber lain, dalam dan luar negeri. Disediakan pula fasilitas untuk mencetak (printing) data/informasi dari komputer. Kelengkapan informasi dalam ruangan ini masih ditambah dengan hadirnya BI Virtual Museum, yang akan memberikan informasi tentang Museum Bank Indonesia melalui jaringan internet. 


Ruang Auditorium, terletak di lantai 2 Museum Bank Indonesia berdekatan dengan pusat informasi BI (BI Information Center). Ruangan ini digunakan sebagai tempat penyelenggaraan ceramah/seminar/diskusi, baik yang disponsori oleh Bank Indonesia maupun pihak luar.

Kios Buku dan Cenderamata, pengunjung dapat memperoleh berbagai hasil publikasi dan cenderamata yang berkaitan dengan museum, khususnya Museum Bank Indonesia. Snacks juga disediakan di sini.

Banking Expo, fungsi pembinaan bank yang diemban oleh Bank Indonesia, dapat direpresentasikan dalam ruang banking expo. Dalam ruangan ini, bank-bank dapat mempromosikan produk-produk terbarunya, sehingga pengunjung dapat membandingkan keunggulan dari setiap bank. Jadi, para pengunjung tidak hanya disuguhi sejarah perbankan di dalam ruang pamer, tetapi sekaligus dapat bertransaksi secara langsung.

Ruang Serbaguna, salah satu keunggulan Museum Bank Indonesia adalah terdapatnya beberapa ruangan yang dapat digunakan untuk kepentingan pengunjung. Salah satunya adalah ruang serbaguna yang terletak di lantai 1. Ruangan ini dapat digunakan oleh pengunjung untuk berbagai keperluan, seperti resepsi pernikahan, rapat besar, dan lain-lain. Perpaduan pesta modern di tengah-tengah nuansa sejarah akan menjadikan pesta yang diselenggarakan semakin berkesan.

Cafe Museum, merupakan salah satu unsur modernisasi yang dihadirkan oleh Museum Bank Indonesia. Di tempat ini, pengunjung dapat beristirahat sekaligus menikmati makanan dan minuman yang lezat, lengkap dengan bacaan berupa harian dan majalah yang khusus mengupas masalah ekonomi, bisnis, dan perbankan. Ditambah lagi dengan adanya beberapa televisi yang menayangkan program-program yang berkaitan dengan ekonomi, bisnis, dan perbankan, sehingga sangat cocok untuk perjamuan ringan dengan relasi bisnis di siang hari.

Fine Dining Restaurant, berbeda dengan cafe museum yang menawarkan nuansa santai, fine dining restaurant, menawarkan suasana yang lebih eksklusif. Suasana ini akan semakin terasa pada malam hari di area inner court dan outeryard.

Perpustakaan, merupakan salah satu fasilitas unggulan Museum Bank Indonesia. Terdapat dua macam perpustakaan di Museum Bank Indonesia, yaitu: perpustakaan untuk para peneliti museum dan perpustakaan untuk umum. Kedua perpustakaan ini akan menyajikan koleksi lengkap, mulai dari buku-buku referensi, majalah, hingga dokumen-dokumen yang tersimpan dalam perangkat multi media, yang kesemuanya dapat dimanfaatkan oleh pengunjung untuk menambah wawasan, keperluan penelitian, maupun analisis.

Pertokoan, walaupun sarat dengan unsur edukasi, Museum Bank Indonesia juga menyajikan nuansa hiburan, yang diantaranya diwakili dengan jejeran pertokoan yang terletak di lantai 1. Ruang pertokoan ini menjual berbagai macam barang eksklusif, misalnya boutique.

Masjid, Museum Bank Indonesia menyediakan sarana ibadah berupa masjid yang terletak di dalam lingkungan museum.








Daftar Pustaka:
http://feidasucianad.blogspot.co.id/2017/05/konservasi-arsitektur-museum-bank.html
http://streetsproduction.tripod.com/id16.html

Kritik Arsitektur Museum Fauna Indonesia dan Taman Reptilia TMII Jakarta


Museum Fauna Indonesia dan Taman Reptilia TMII Jakarta, atau sering disebut sebagai Museum Komodo karena bentuk bangunannya yang meniru bentuk badan dan kepala binatang raksasa Komodo, berada di dalam kompleks Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur.



Lokasinya berada tepat di sebelah Barat Museum Perangko Indonesia, di sebelah Timur Museum Transportasi, dan berhadapan dengan Museum Timor Timur. Tidak jauh di sebelah Selatan Museum Fauna Indonesia dan Taman Reptilia terdapat Hostel Desa Wisata.



Museum Fauna Indonesia dibangun mulai 1 Oktober 1975 sampai 1 Juli 1976, namun baru diresmikan pada 20 April 1978 oleh Presiden Soeharto. Luas bangunan dua lantai Museum Fauna Indonesia dan Taman Reptilia ini mencapai 1.500 m2 dengan luas lahan 10.120 m², dengan koleksi meliputi satwa langka awetan maupun reptilia yang masih hidup yang berasal dari Indonesia barat sampai timur, dan dari pesisir pantai sampai pegunungan.



Museum ini memiliki gaya arsitektur metafora yang terinspirasi dari salah satu hewan reptil yaitu komodo. Pemilihan bentuk komodo sebagai simbol binatang reptil khas Indonesia memiliki kesan yang kuat dan unik.



Penerapan dari metafora tersebut dapat terlihat pada bentuk bangunannya yang menyerupai hewan reptil komodo dengan fasad eksterior yang di bentuk menyerupai kulit dari komodo baik dari segi tekstur maupun warna. Pada salah satu sisi bentukan bangunan yang menyerupai bagian kepala komodo terdapat detail berupa mata dan mulut yang dilengkapi gigi dengan material kaca yang berfungsi sebagai jendela pada observation deck.



Alasan :
Bangunan museum ini berbentuk binatang komodo, bentuk tersebut mempunyai keunikan tersendiri. Sejak kecil, saya selalu penasaran dengan bangunan ini. Sehingga saya tertarik untuk meneliti bangunan ini lebih dalam.

Jl. Taman Mini Indonesia Indah, RW.2, Ceger, Cipayung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13820

Material Ramah Lingkungan

Material Ramah Lingkungan

Pemanfaatan material bekas atau sisa untuk bahan renovasi bangunan juga dapat menghasilkan bangunan yang indah dan fungsional. Kusen, daun pintu atau jendela, kaca, teraso, hingga tangga dan pagar besi bekas masih bisa dirapikan, diberi sentuhan baru, dan dipakai ulang yang dapat memberikan suasana baru pada bangunan. Lebih murah dan tetap kuat.
Material ramah lingkungan memiliki kriteria sebagai berikut:
  1. tidak beracun, sebelum maupun sesudah digunakan
  2. dalam proses pembuatannya tidak memproduksi zat-zat berbahaya bagi lingkungan
  3. dapat menghubungkan kita dengan alam, dalam arti kita makin dekat dengan alam karena kesan alami dari material tersebut (misalnya bata mengingatkan kita pada tanah, kayu pada pepohonan)
  4. bisa didapatkan dengan mudah dan dekat (tidak memerlukan ongkos atau proses memindahkan yang besar, karena menghemat energi BBM untuk memindahkan material tersebut ke lokasi pembangunan)
  5. bahan material yang dapat terurai dengan mudah secara alami
Material yang ramah lingkungan menurut kriteria diatas misalnya; batu bata, semen, batu alam, keramik lokal, kayu, dan sebagainya. Ramah lingkungan atau tidaknya material bisa diukur dari kriteria tersebut atau dari salah satu kriteria saja, seperti kayu yang makin sulit didapat, tapi bila dipakai dengan hemat dan benar bisa membuat kita merasa makin dekat dengan alam karena mengingatkan kita pada tumbuh-tumbuhan.
Semen, keramik, batu bata, aluminium, kaca, dan baja sebagai bahan baku utama dalam pembuatan sebuah bangunan berperan penting dalam mewujudkan konsep bangunan ramah lingkungan.
Untuk kerangka bangunan utama dan atap, kini material kayu sudah mulai digantikan material baja ringan. Isu penebangan liar (illegal logging) akibat pembabatan kayu hutan yang tak terkendali menempatkan bangunan berbahan kayu mulai berkurang sebagai wujud kepedulian dan keprihatinan terhadap penebangan kayu dan kelestarian bumi. Peran kayu pun perlahan mulai digantikan oleh baja ringan dan aluminium.
Baja ringan dapat dipilih berdasarkan beberapa tingkatan kualitas tergantung dari bahan bakunya. Rangka atap dan bangunan dari baja memiliki keunggulan lebih kuat, antikarat, antikeropos, antirayap, lentur, mudah dipasang, dan lebih ringan sehingga tidak membebani konstruksi dan fondasi, serta dapat dipasang dengan perhitungan desain arsitektur dan kalkulasi teknik sipil.
Kusen jendela dan pintu juga sudah mulai menggunakan bahan aluminium sebagai generasi bahan bangunan masa datang. Aluminium memiliki keunggulan dapat didaur ulang (digunakan ulang), bebas racun dan zat pemicu kanker, bebas perawatan dan praktis (sesuai gaya hidup modern), dengan desain insulasi khusus mengurangi transmisi panas dan bising (hemat energi, hemat biaya), lebih kuat, tahan lama, antikarat, tidak perlu diganti sama sekali hanya karet pengganjal saja, tersedia beragam warna, bentuk, dan ukuran dengan tekstur variasi (klasik, kayu).
Bahan dinding dipilih yang mampu menyerap panas matahari dengan baik. Batu bata alami atau fabrikasi batu bata ringan (campuran pasir, kapur, semen, dan bahan lain) memiliki karakteristik tahan api, kuat terhadap tekanan tinggi, daya serap air rendah, kedap suara, dan menyerap panas matahari secara signifikan.
Kehalusan permukaan dan warna bahan bangunan sangat menentukan iklim mikro di sekitar bangunan, warna cerah dan permukaan licin adalah pemantul sinar matahari yang baik dan menaikkan suhu sekitar. Warna gelap dan permukaan kasar akan membantu meredam dan menyerap sinar dan panas matahari. Bahan bangunan berpori mudah meluncurkan panas dan meluncurkannya kembali jika suhu udara disekitarnya menurun. Sangat bijaksana jika memanfaatkan bahan-bahan bangunan alami seperti aslinya untuk pelapis dinding dan lantai luar.

Berikut beberapa contoh material ramah lingkungan:


Kayu, mungkin dan hampir pasti setiap hari kita melihat yang namanya kayu. Mulai dari meja, kursi, pintu, rangka atap, dan masih banyak lagi benda yang menggunakan kayu sebagai bahan pembuatannya. Meski saat ini sudah ada bahan alternatif pengganti kayu, misalkan saja baja, besi, plastik, dan lain sebagainya, namun kayu masihlah menjadi bahan yang paling banyak dipergunakan.

Dibandingkan dengan material lain, kayu memiliki beberapa kelebihan, diantaranya adalah:
  • Kayu mudah dalam pengerjaan, bisa dibuat atau dibentuk sesuai keinginan, misalkan saja untuk ukiran, desain kusen, dll. Selain itu, kayu juga mudah untuk dipaku, dibaut, dan direkatkan
  • Kualitas kayu bisa dilihat secara visual, misalkan saja bila terjadi cacat kayu dapat diketahui secara kasat mata.
  • Kayu lebih tahan terhadap tekanan dan lenturan.
  • Dengan adanya bermacam jenis kayu, maka kayu memiliki tekstur yang baik dan indah.
  • Kayu memiliki berat jenis yang cukup ringan sehingga bisa mengapung dan sifat resonansinya.
  • Kayu dapat diubah menjadi bentuk pulp (bubur kayu), dan bisa diolah untuk dijadikan bahan produk lainnya, misal untuk bahan baku pembuatan kertas.
Sedangkan kekurangan atau kelemahan material kayu diantaranya adalah:
  • Tidak tahan api, sehingga kayu mudah terbakar, apalagi kalau dalam kondisi kering.
  • Kayu tidak dapat dimanfaatkan secara keseluruhan sehingga sisa penggunaan kayu hanya menjadi limbah.
  • Untuk pekerjaan tertentu (yang besar atau lebar), kayu tidak bisa menutup secara keselurahan karena terbatasnya diameter kayu. Biasanya untuk menyikapi hal ini kayu harus disambung atau diperlebar/perbesar.
  • Kayu mudah diserang oleh serangga pemakan kayu seperti rayap atau serangga lainnya.
  • Kayu mengandung air dan berpengaruh besar terhadap bentuk kayu. Kayu yang belum kering biasanya masih mengalami penyusutan atau perubahan bentuk, oleh karena itu kayu harus dikeringkan sebelum digunakan.
  • Kayu bersifat higroskopis, dan sensitif terhadap kelembaban. 

Bambu, untuk mensikapi mahalnya harga kayu, banyak orang yang memilih untuk menggunakan bahan alternatif untuk mendukung kekuatan konstruksi. Bambu menjadi salah satu alternatif yang banyak disukai dan banyak digunakan. Banyak orang yang berpandangan kalau bambu hanya sebagai bahan konstruksi untuk rumah non permanen, atau untuk konstruksi bagi rumah sederhana. Namun sejatinya pandangan atau asumsi semaam itu tak selalu tepat.
  • Harganya Lebih Murah, Bambu merupakan material yang dibandrol dengan harga relatif murah. Rata-rata harga bambu saat ini berkisar antara Rp8.000 hingga Rp15.000 per batang tergantung kualitas. Coba bandingkan dengan harga  kayu ukuran reng dan usuk saja, selisihnya sudah setengahnya. Itulah kenapa bambu bisa menjadi salah satu material yang direkomendasikan untuk menghemat budget pembangunan.
  • Memiliki Bobot yang Ringan, Bentuknya yang tidak padat alias memiliki rongga di dalamnya otomatis membuat bambu memiliki bobot yang lebih ringan daripada material-material yang lain. Hal ini memungkinkan distribusinya bisa dikerjakan lebih mudah, pun demikian dengan pemasangannya. Bambu juga gampang dibentuk sesuai keinginan penggunanya.
  • Bersifat Elastis, Bambu adalah bahan bangunan yang memiliki tingkat elastisitas yang tinggi. Material ini bisa mempertahankan kedudukannya dengan baik. Hal ini pula yang menjadikan bambu sebagai material terbaik untuk bangunan yang berdiri di daerah-daerah rawan gempa. Kalaupun bangun rubuh, bobot bambu yang ringan tidak begitu membahayakan penghuni bangunan tersebut.
  • Ramah Lingkungan, Salah satu alasan kenapa bambu termasuk bahan yang ramah lingkungan yaitu bambu mudah sekali hidup di suatu tempat. Tingkat pertumbuhannya pun tergolong yang paling cepat di dunia. Bambu yang layak digunakan biasanya berusia antara 3-5 tahun.
  • Setara dengan Baja, Bambu mempunyai tingkat kuat tarik yang setara dengan baja berkualitas sedang pada berat jenis yang sama. Bahkan bambu yang sudah diawetkan terlebih dahulu diklaim sangat kokoh untuk dijadikan kolom bangunan bertingkat. Perlu diketahui, kabar hebatnya bambu dalam menopang bangunan sudah lama tersiar di masyarakat Indonesia terbukti dari banyaknya bangunan-bangunan kuno yang menggunakan bambu sebagai penopangnya.
  • Tampilannya Sangat Alami, Bagi pecinta desain natural alami, bambu adalah opsi yang terbaik. Bagaimana tidak karena kesan alami yang dapat ditimbulkan dari material ini begitu kuat. Untuk dekorasi, bambu biasanya dihadirkan dalam bentuk perabotan, hiasan dinding, aksesoris, dan lantai.
Sedangkan kelemahan-kelemahan bambu antara lain :
  • Karakteristiknya Tidak Seragam, Karena langsung dari alam dan bukan buatan pabrik, karakteristik bambu tidak pernah sama. Diameter yang berbeda-beda memerlukan ketelitian dalam proses seleksi bambu tahap awal. Coba perhatikan, jarak ruas di bambu pun tidak pernah sama dari bagian ujung sampai pangkal. Hal ini menyebabkan kesulitan tersendiri dalam memadukan bambu-bambu secara harmonis.
  • Detail Sambungan yang Rumit, Kendati tergolong material yang kuat, bambu memiliki kelemahan pada detail sambungannya. Sambungan antar-bambu yang membentuk struktur mempunyai tingkat kesulitan yang rumit. Sehingga diperlukan penguasaan bambu yang mendalam sebelum dapat menggunakannya dengan baik.
  • Rentan Serangan Rayap, Rayap juga dikenal suka sekali menggerogoti bambu. Jika sudah diserang, tentu kekuatan bambu akan berkurang drastis dan cepat rusak. Solusi mengatasi kejadian buruk ini adalah dengan mengoleskan cairan anti-rayap di permukaan bambu secara berkala.

Genteng sirap berasal dari kayu ulin yang dikenal juga dengan nama kayu besi atau kayu bulian. Kayu ulin berasal dari daerah Kalimantan dan memiliki ketahanan yang sangat baik terhadap perubahan suhu, kelembaban, dan pengaruh air laut, sehingga banyak dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, seperti konstruksi rumah, jembatan, tiang listrik, bantalan kereta api, dan perkapalan.
Bentuk atap sirap biasanya berupa lembaran tipis memanjang yang dihasilkan dari belahan kayu ulin. Atap sirap dari kayu ulin ini berwarna coklat kehitaman. Ukuran 1 lembar atap sirap biasanya (p x l x t) = 58 x 6 x 0,3 dan 58 x 6 x 0,5 (masing-masing dalam satuan cm). Lembaran tipis tersebut dikemas dalam ikatan.

Kelebihan dari atap sirap :
  • Bahannya cukup ringan.
  • Bersifat isolisasi terhadap panas.

Kekurangan menggunakan atap sirap :

  • Pemasangannya cukup sulit sehingga biaya yang akan digunakan akan bertambah
    Bila lembaran sirap belum cukup kering sudah di pasang akan membilut dan berubah bentuk menjadi cekung.


Sumber:
http://idebangunan.blogspot.co.id/
http://arafuru.com/furnitur/
https://natrapstoneroof.wordpress.com/

Green Architect


           Green Architecture



 Green Architecture adalah konsep arsitektur yang berusaha meminimalkan pengaruh buruk terhadap lingkungan alam maupun manusia dan menghasilkan tempat hidup yang lebih baik dan lebih sehat, yang dilakukan dengan cara memanfaatkan sumber energi dan sumber daya alam secara efisien dan optimal. 

Konsep Green Architecture bertanggung jawab terhadap lingkungan, memiliki tingkat keselarasan yang tinggi antara strukturnya dengan lingkungan, dan penggunaan sistem utilitas yang sangat baik. 





Bagaimana prinsip bangunan berkonsep “Green Architecture” ?



Prinsip – prinsip bangunan yang berkonsep Green Architecture adalah sebagai berikut :

1.  Hemat energi / Conserving energy : Pengoperasian bangunan harus meminimalkan penggunaan bahan bakar atau energi listrik ( sebisa mungkin memaksimalkan energi alam sekitar lokasi bangunan ).

2. Memperhatikan kondisi iklim / Working with climate : Mendisain bagunan harus berdasarkan iklim yang berlaku di lokasi tapak kita, dan sumber energi yang ada.

3.    Minimizing new resources : mendisain dengan mengoptimalkan kebutuhan sumberdaya alam yang baru, agar sumberdaya tersebut tidak habis dan dapat digunakan di masa mendatang/ Penggunaan material bangunan yang tidak berbahaya bagi ekosistem dan sumber daya alam.

4.     Tidak berdampak negatif bagi kesehatan dan kenyamanan penghuni bangunan tersebut / Respect for site : Bangunan yang akan dibangun, nantinya jangan sampai merusak kondisi tapak aslinya, sehingga jika nanti bangunan itu sudah tidak terpakai, tapak aslinya masih ada dan tidak berubah.( tidak merusak lingkungan yang ada ).

5.  Merespon  keadaan tapak dari bangunan / Respect for user : Dalam merancang bangunan harus memperhatikan semua pengguna bangunan dan memenuhi semua kebutuhannya.

6.   Menetapkan seluruh prinsip – prinsip green architecture secara keseluruhan / Holism : Ketentuan diatas tidak baku, artinya dapat kita pergunakan sesuai kebutuhan bangunan kita.



Lalu, bagaimana sifat dari arsitektur berkonsepkan “Green Architecture” ?



Sifat – sifat bangunan berkonsep Green Architecture adalah sebagai berikut :



A.Sustainable ( Berkelanjutan )



Berkelanjutan berarti bangunan arsitektur hijau tetap bertahan dan berfungsi seiring zaman, konsisten terhadap konsepnya yang menyatu dengan alam tanpa adanya perubahan – perubuhan yang signifikan tanpa merusak alam sekitar.



B. Earthfriendly ( Ramah lingkungan )



Suatu bangunan belum bisa dianggap sebagai bangunan berkonsep arsitektur hijau apabila bangunan tersebut tidak bersifat ramah lingkungan. Maksud tidak bersifat ramah terhadap lingkungan disini tidak hanya dalam perusakkan terhadap lingkungan. Tetapi juga menyangkut masalah pemakaian energi.Oleh karena itu bangunan berkonsep arsitektur hijau mempunyai sifat ramah terhadap lingkungan sekitar, energi dan aspek – aspek pendukung lainnya.



C. High performance building.



Bangunan berkonsep arsitektur hijau mempunyai satu sifat yang tidak kalah pentingnya dengan sifat – sifat lainnya. Sifat ini adalah “High performance building. Salah satu fungsinya ialah untuk meminimaliskan penggunaan energi dengan memenfaatkan energi yang berasal dari alam (Energy of nature) dan dengan dipadukan dengan teknologi tinggi (High technology performance). Contohnya :

o   Penggunaan panel surya (Solar cell) untuk memanfaatkan energi panas matahari sebagai sumber pembangkit tenaga listrik rumahan.

o   Penggunaan material – material yang dapat di daur ulang, penggunaan konstruksi – konstruksi maupun bentuk fisik dan fasad bangunan tersebut yang dapat mendukung konsep arsitektur hijau.



Secara sederhana konsep green architecture bisa diterapkan dalam rancangan rumah sederhana sekalipun, hanya apakah ada goodwill atau tidak untuk penerapannya. Konsep-konsep sederhana seperti rumah hemat listrik, hemat air, dan sebagainya dapat mulai diterapkan untuk mengantisipasi berkurangnya sumber listrik dan air di kehidupan sehari-hari.



Green architecture saat ini lebih menjadi suatu kebutuhan daripada sekedar sebuah pola labelisasi style atau gaya saja, menjadi suatu keharusan ketika buruknya kualitas lingkungan hidup terus menjadi permasalahan lingkungan saat ini. Kadang disayangkan ketika green architecture yang seharusnya merupakan sebuah prinsip sebagai perwujudan moral seorang arsitek telah terperangkap pada pola labelisasi style.

 

  • Architects


  • Location

Melbourne, Australia

  • Garden Area

35 m2

  • Area

132.0 m2

  • Project Year

2006

  • Photographs


  • Manufacturers

Vic Ash, Enviroshop, RADIAL TIMBER

 


Sumber :
Dr Handayani, Sri. M.Pd.2009.Arsitektur & Lingkungan. Bandung : Penerbit Universitas Pendidikan Indonesia. 
https://www.archdaily.com/879145/green-house-zen-architects


Copyright @ 2014 Karyaku. Designed by Farhan Permana